Malam itu begitu suram. Guntur menggelegar memecah langit. Butir-butir hujan terhuyung-huyung jatuh ke permukaan atap, membuatku cemas tak keruan. Hempasan angin yang masuk melalui jendela-jendela yang tirainya terbuka begitu tajam menusuk kulit. Dengan langkah yang tertatih-tatih aku mulai melangkahkan kaki melewati sebuah ruangan berisi perabotan yang tak lagi terawat. Suasana tempat itu begitu mencekam hingga tanpa sadar aku telah mempercepat langkahku dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu reyot yang telah usang.
"Apakah ada orang di dalam?" tanyaku kemudian. Tetapi bahkan hingga kali ketiga aku bertanya tak ada satupun suara yang terdengar dari dalam. Akhirnya menelan ludah dan mengumpulkan nyali, aku pun memberanikan diri untuk menyentuh gagang pintu yang tertutup debu tebal di hadapanku.
Setelah pintu itu terbuka, aku kembali melangkah dengan perlahan memasuki ruangan kecil di depannya. Satu, dua, tiga, baru tiga langkah sebelum akhirnya aku menyadari sesuatu. Di seberang ruangan, kudapati seseorang sedang duduk di sebuah kursi kayu yang sudah reyot dengan kepala tertunduk. Dari cahaya remang-remang yang berasal dari lampu minyak yang terletak di atas meja kayu, aku tahu bahwa orang tersebut adalah seorang perempuan. Kemudian aku mencoba membuka mulutku yang terasa kaku sejak beberapa saat lalu. "Siapa dirimu? Apa kau tinggal di tempat ini?"
Gadis itu hanya terdiam. Lalu setelah beberapa detik, ia menegakkan kepalanya yang akhirnya membuatku terperanjat hingga tanpa sadar kakiku bergerak mundur.
"Kau... bagaimana bisa?" tanyaku masih dengan perasaan kaget bercampur takut serta telapak tangan yang menutupi bagian mulutku.
Tanpa menjawab pertanyaanku, gadis itu bangkit dari singgasananya dan maju beberapa langkah. Ia menatapku, dengan sorot mata yang mengisyaratkan harapan besar dalam dirinya dan rasa lelah akibat penantian yang terlalu lama. Wajahnya pucat dan lesu serta terdapat guratan-guratan kepedihan di mana-mana. Tetapi yang membuatku begitu terperanjat adalah, ia begitu mirip denganku sampai aku hampir saja mengira sedang berada di depan cermin.
"Tolong jawab aku, siapa sebenarnya dirimu?" tanyaku kembali dengan terbata-bata.
"Untuk apa kau masih bertanya? Kau sudah mengetahui jawabannya 'kan? Aku adalah dirimu." jawabnya dengan suara sedingin es. "Lebih tepatnya, aku adalah hatimu."
"Apa yang kau..."
"Lihatlah tempat ini," ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu aku juga mengikuti apa yang ia lakukan. "Ruang kecil yang gelap dan pengap, hanya berisi beberapa perabot yang telah usang dimakan usia. Tempat ini adalah penantianmu. Sudah sangat lama sejak saat pertama aku terkurung di tempat ini, dan selama itu pula aku hanya berteman sepi. Ya, kau benar. Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan tempat ini. Atau kalaupun aku berniat untuk pergi, hal itu tidak akan berlangsung lama. Seringkali aku khawatir pada diriku sendiri dan bertanya-tanya, apakah ini akan berhasil? Penantian ini, apa suatu saat nanti akan berakhir? Tak jarang aku merasa takut dan berpikir untuk menyudahi semua ini, dan kembali menjalani hidup layaknya orang normal. Tetapi pada akhirnya aku hanya punya satu pilihan, yaitu kembali. Tak perlu bertanya kenapa aku melakukan itu, kau sudah memiliki jawabannya bukan? Benar, aku melakukan ini semua karena keinginanku. Kau lihat lampu minyak yang menempel di sudut sana?" ia menunjuk ke arah lampu tersebut.
"Itu adalah harapanmu. Seberkas cahaya kecil yang dihasilkan oleh lampu itu begitu berharga hingga mampu membawaku hingga sejauh ini. Seberapa kuatpun aku berusaha untuk tidak menantinya, usaha itu selalu gagal. Padahal bisa jadi orang itu tidak akan pernah kembali lagi, tidak mengenalku, atau bahkan tak ada kesempatan untuk kembali melihatnya. Aku tahu benar selalu ada kemungkinan-kemungkinan semacam itu. Dan akhirnya hanya tekadlah yang membuatku bertahan saat ini hingga seterusnya. Tidak perlu kau bersedih, kita telah melakukan hal yang benar. Bukan sebuah kesalahan jika kau mencintai seseorang yang belum tentu mencintaimu. Bukan hal yang salah jika kau menunggu seseorang yang bahkan kau tidak tahu apakah dia masih mengingatmu. Ini adalah pilihanmu, dan aku tidaklah ragu untuk menjalaninya. Meskipun penantian panjang ini bisa saja menjadi penantian tiada akhir, aku tidak akan mengeluh. Aku tidak akan pernah menyesal telah menanti seseorang yang sangat kucintai dalam hidupku."
Tanganku terkepal dan tanpa sadar kesedihan mengalir membasahi wajahku. Tanpa bersuara aku mendekati gadis itu, kemudian memeluknya. "Maafkan aku, diriku."